WELCOME.....WELCOME....!!! #injekkeset, sista and brada sekarang anda berada dalam zona aman milik ANGGI, Jangan sungkan-sungkan anggap saja rumah sendiri *nah loh. dan JANGAN LUPA BERKUNJUNG KEMBALI..^^v

Kamis, 20 Juni 2013

# (melanggar) Peraturan dilarang memeluk

Jangan pernah tanyakan soal kehidupan pada seorang laki-laki,

tanyakan pada perempuan. Karena dia rahim kehidupan.
....

Hari Pertama Taman Kanak-Kanak


Ia bergegas ke pintu, melepaskan pelukan ibunya. Ia tak lagi perlu itu, karena ia sudah besar sekarang. Terlalu besar untuk hal-hal seperti itu. sebaliknya ia melambaikan tangan berharap itu sudah cukup.

Saat Hari Pertama Pulang Sekolah 

Sang ibu menanyakan kegiatannya, ia memberikan secarik kertas bergambar matahari kuning besar. Gambar nya tentu tak sempurna, ya ia ceroboh di sana sini. Tapi, ibunya tak melihatnya, atau agaknya tak peduli.

Hari Pertama SMP

Ia bergegas ke pintu berlari dari pelukan ibunya. Ia tak menginginkan hal itu lagi. Ia mengabaikan panggilannya. Setelahnya ia bergegas menyusuri jalan di dekat perempatan. Ya, tempat teman-temannya berencana bertemu.

Ia berharap ibunya akan mengerti : akan tidak keren kelihatannya jika berjalan ke sekolah terlebih diantar ibunya.

Saat Hari Pertama Pulang Sekolah 

Sang ibu menanyakan kegiatannya, ia memberikan berlembar. hmm... gurunya jelas menunjukkan jawaban yang salah di sana sini. Tapi, ibunya tak melihatnya, atau agaknya tak peduli.

Sabtu, 01 Juni 2013

#kopi, 16.30, buku














Yang pertama saya sebutkan adalah hobi baru, entah mengapa yang dulunya alergi sekali dengan kopi. Sekarang senantisasa rindu kehangatannya, rindu aromanya, rindu kelembutannya. rindu asapnya. Tuangkan cukup empat sendok kopi, hadirkan Gula sesukamu.

satu, terlalu pahit.

dua, cukup pas

tiga, agak terlalu manis

empat, sepertinya bisa menimbulkan diabetes

Seduh dengan air mendidih. Jangan lupa aduklah lima kali searah jarum jam, dan paling penting sambil memandang wajahnya. Whatever..... kopi dalam bentuk dan peranakan apapun, saya telah jatuh cinta. 

Aha, sore hari, waktu yang sangat tepat bercengkrama dengannya. pasti.

Dan setengah lima sore (terlalu cepat berlalu). Andai ada tombol mute untuk ditekan, guna merekam moment setengah lima sore di kota ini. Akan saya bungkus manis dan membagi-bagikan kepada siapa saja dan sekuka saya!. Dan saya pilih kamu.

setengah lima sore, itu adalah waktu dimana saya akan sangat senang berkemas dan menenteng tas untuk beranjak dari ruangan, lalu duduk di alam luar. menikmati hembusan angin kota ini, membiarkan helaannya. biarpun malu-malu. 

Di antara hiruk-pikuk dan ketergesaan orang-orang, dengan tujuannya masing-masing. Saya abaikan dengan membaca buku karena dalam dimensi ini saya membangun ruang berpresepsi. karna dalam sederet tulisan kita bisa membangun pemahaman dalam sebuah imajinasi.

Dengan perpaduan ketiganya, saya menduga dengan cara ini, kota ini sedang menyapa dengan ramah. kopi, setengah lima sore, dan buku dimana degup jantung sedikit melambat, satu moment yang saya suka. ketika saya hanya menikmatinya. diam.... membiarkan....

saya rasa hidup itu klise... tapi berirama...

hmm... apakah saya terlampau berlebihan merasakannya??

TIDAK.....

karena dalam ketiganya saya mencipta "dunia suka-suka"

Sabtu, 06 April 2013

#postcardfiction

maaf, tahu jalan kearah rumah Tuhan?
Di perempatan itu, belok ke kanan
Kemudian lurus saja
kamu yakin?
Tuhan tak pernah bohong!


maaf, kemana saya harus menuju jika ingin ke rumah Tuhan?
ikuti cahayanya !
tapi aku tidak melihatnya.....
kalau begitu rasakanlah
sungguh, bisa dipercaya?
Tuhan tak pernah bohong!
....

sebuah suara marah meneriakiku. Yang tercium di mataku hanya gelombang. Jalan-jalan gelap. Sungai-sungai pengap dan gemuruh lautan memanggil kiamat.

apa aku salah jika bertanya?

aku hanya mampu mengeja malam. Dan kubaca hitam setelah matahari.

(kurasa) sebiji bintang tiba-tiba meluncur ke arahku. membisikkan lautan yang jenuh oleh gemuruh gelombang. Yang aku rasa hanya batu karang sosok bengis namun keras di tikungan-tikungan malam.

apa aku salah jika bertanya?

aku tak tahu kemana air sungai mengalir. ke sorga ataukah ke dalam hatimu

lalu, aku tanya......

dimana aku harus pergi, untuk sampai ke rumah TUHAN?

Pergilah, pada keyakinanmu paling dasar
pada RINDUmu ingin bertemu

karena, satu langkah saja kamu datang kepada-Nya,
TUHAN akan merlari menjemputmu, tidak. bukan.
TUHAN akan memelukmu


Senin, 01 April 2013

mars & venus


Manusia itu unik. Bukan malaikat.Tidak melulu tokoh suci. Saya sering menduga mahluk kesayangan Tuhan itu bukan Malaikat, tapi kita. Manusia. Laki-laki dan perempuan. Yang dibuat hanya dari tanah. Bukan dari api bahkan cahaya.

Manusia dianugrahkan rasa, dianugrahkan gairah, dianugrahkan cinta. Dari sanalah tercipta laki-laki dan perempuan.

 Kenapa tiba-tiba ngomongin ini ya?

 soalnya baru-baru ini saya nemu lagu lumayan kece. Akibat dari profesi saya sebagai penguntit paruh waktu. Berawal dari menyusuri timeline demi timeline *iyeh*. As usual, sebagai mahluk urban masa kini, ingin membuktikan seberapa sibuknya saya (baca : nganggur) di jam-jam 8 malam ke atas. Demi alasan memanfaatkan tranformasi tehnologi mengusir sepi #halah.

Lalu apa kabarnya dengan hati dan perasaan ya?

Untuk sementara lupakan soal hati dulu. Wanita dan laki-laki lebih menarik. Perbedaan mendasar dari keduanya yang bikin satu sama lain tarik menarik, antara kutub selatan dan utaranya magnet. Venus dan Mars mereka beda dan tak sama tapi saling cinta.
….


Saat kamu bilang, kamu tak apa-apa
aku yakin hatimu ada apa-apa
Bila kau menangis bukannya kau lemah
hanya kau tak sanggup menahan sakitmu
"Jika aku api" "aku jadi air"
"bila aku marah" "aku yang mengalah"
perbedaan ini bukanlah masalah
kalau sudah cinta ya cinta saja
Wanita ingin dimengerti
dan aku lelaki ingin dicintai
Aku laki laki, aku wanita
kita memang berbeda
tapi kita jangan menyakiti hati
Aku dari Venus dan aku dari Mars
kita menang berbeda
tapi kita diberikan rasa cinta
Aku venus dan aku mars
aku venus, kamu venus aku mars
kita beda dan tak sama
tapi saling cinta


Now playing mars dan venus _lovender

Minggu, 31 Maret 2013

#Menepi

Kelip Kelip Kg. Kuantan, Kuala Selangor, Selangor

Seperempat abad, 25 tahun. Bukan waktu yang singkat, saya rasa. Begitu banyak hal yang berubah. Begitu banyak loncatan, pergeseran, dan perpindahan.

Bukan waktu yang singkat untuk sekedar menelantarkan kata “mengisi waktu luang”. Tidak hanya pergeseran jarum second per second pada bandul jam. bukan waktu yang singkat untuk berlayar di antara lautan berjuta ragam manusia, tenggelam di dalam samudra keringat yang bercampur dengan benua orientasi materi bahkan hanya sekedar mengenal jati diri.

Kata orang, waktu itu relatif, tentu tergantung sudut pandang. Orang cendekiawan akan beranggapan waktu itu pasti. Bila dihitung-hitung mengkalkulasikan satu tahun misalnya, jumlah per secondnya sudah mencapai 365 x 24 x60 x 60. Hasilnya ? bukan angka yang sedikit 31. 536.000 detik. Lantas jika dikalikan dengan 25 tahun?

Bagaimana menjadikan waktu itu relatif? Ah, ya kita seringkali mengesampingkan tambahan pencerminan rasa (relativitas rasa), dimana 1 detik bisa saja akan tersa 1 jam bahkan 1 tahun.

Dari jumlah tersebut, saya hanya membutuhkan sebuah pansive milik dumbledoor dan menyedot benang-benang memory lalu menuangkannya dalam bejana itu. Andai hidup semudah itu. Tidak.

Selayaknya hewan kita pun metamorphosis, metamorphosis tidak sempurna. Bayi – kanak-kanak – dewasa– tua– mati.

Begitu banyak rentetan- rentetan kejadian yang secepat kitat datang, dan secepat itu pula pergi. Akhir-akhir ini kejadian-kejadian itu seringkali nyantol di pikiran. Ibarat alur film mundur. Flashback. Terlalu banyak pergantian adegan film biografi kehidupan.

Dari perpindahan satu tempat ke tempat selanjutnya, diawali satu cerita dan bersambung dengan cerita lainnya. Sekuel. Prekuel. Saga dll.

 Dari pindah rumah masa kecil menuju rumah yang lebih menenangkan karena letaknya di pedesaan. Dari mulai anak mama sampai harus berpisah untuk ke kota besar melanjutkan pendidikan. Teman- teman berubah. Teman-teman berganti. Pindah satu kota ke kota lain. Setiap kota membekas menjadi kenangannya sendiri.

Sekarangpun saya masih tetap mencari rumah baru. Rumah dalam bentuk lain : hati yang baru. Dalam setahun ini saya mempunyai dua kehilangan besar. Serasa hati yang kecil ini dicongkel sedemikian besar, tidak hanya satu kali tapi dua. Menyisakan hanya separuhnya. Dan harus dipaksa menggantikan separuhnya dengan yang baru.

Putus cinta, dan memutuskan tetap mencintai walau orangnya telah tiada. Dua hal yang berlainan. Ya saya baru saja putus cinta dengan pacar, dan itu benar-benar putus ikatan (bukan perkara besar). Dan perkara kedua “memutuskan mencintai” dan tetap mencintai karena sebuah kehilangan yang telah digariskan : kematian. 2 bulan sudah saya kehilangan BAPAK. Ada kehilangan-kehilangan yang rasanya baru kemarin terjadi, dan selamanya akan selamanya seperti itu.

ironisnya bahwa perkara mencari rumah baru bertepatan dengan urusan pindah hati. Mungkin lebih tepatnya memperbaiki hati.

Hidup memang gudangnya kejutan bukan. Ibarat cuaca siang panas menyengat semenit kemudian hujan badai. Seketika keadaan berbalik 180 derajat. Itu yang saya rasakan. Dipaksa mencicipi remahan-remahan 

pancake dari berbagai rasa dari pahit coklat sampai asinnya keju.

Stok kaget saya belakangan ini hampir habis : kucing kesayangan mati

dan voilaaaaa entah Alloh mendengar salah satu stok doa saya atau memang terlalu baik. Saya dilamar. Iya, dilamar dan benar-benar dilamar. *krik* *krik*

Celakanya kejadian itu tidak dibarengi dengan stok kesiapan saya untuk kehilangan dibanding stok new comer. Hasilnya saya dilanda gelombang bimbang yang luar biasa.

Cuma satu hal yang saat ini saya butuhkan. MENEPI

Hanya demi beristirahat di sebuah dermaga, cuma sekadar bersandar di sebuah  karang raksasa, atau menikmati burung camar yang mencoba merunduk lalu mendarat.

Hanya untuk memejamkan mata, menengadahkan wajah ke angkasa, lalu merasakan sayup angin sepoi-sepoi yang sedang berkejaran di antara ilalang, lantas terlelap sampai ke sebuah dunia, yang disebut dimensi pikiran manusia. Menenangkan diri.
Seperti telinga kita sering terganggu oleh derau aneka suara; ada waktu untuk mengistirahatkan hati dari kebisingan kata-kata kita sendiri

Lalu menghela nafas. Dan merebahkan tubuh. Dan kemudian merasakan bahwa Tuhan itu ada, nggak cuma saya, kamu, dunia dan media-medianya.


Dan sekali kali jika pansive dambledoor itu benar adanya. Saya ingin sekali mencurinya. Hanya untuk sekedar meletakkan benang-benang kusut yang dinamakan pikiran.
Lalu, entah kapan akan berlayar kembali


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...